Powered By Blogger

Jumat, 16 April 2021

 

PENDIDIKAN GURU PENGGERAK-3.1.a. 8.1 KONEKSI ANTAR MATERI


Patrap Triloka adalah sebuah konsep pendidikan yang digagas oleh Suwardi Suryaningrat (alias Ki Hadjar Dewantara) selaku pendiri organisasi pergerakan nasional Indonesia yaitu Taman Siswa.  Unsur-unsur dari Patrap Triloka yang menjadi dasar kerja seorang guru sebagai berikut:Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan),Ing madya mangun karsa (di tengah membangun karsa/semangat/kemauan),Tut wuri handayani (dari belakang mendukung) . Para pemimpin yang diidealkan Ki Hadjar Dewantara ini di masa depan akan menghasilkan pemimpin yang tangguh karena merupakan pemimpin yang disiplin terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungan masyarakat, serta seorang pemimpin yang mampu membuat keputusan  pemimpin pembelajaran.

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh terhadap prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan keputusan. Untuk menentukan pilihan dari berbagai teori pengambilan keputusan baik itu rasional, inkremental atau pengamatan terpadu dengan beberapa alternatif pilihan yang tersedia. Tentu masing-masing harus mempunyai dasar (nilai-nilai, norma-norma, atau pedoman tertentu) yang digunakan sebagai landasan dalam menentukan pilihan teori yang tepat. Ada beberapa dasar atau nilai-nilai yang mempengaruhi perilaku pembuat keputusan diantaranya adalah nilai moral, nilai ideologis, dan nilai pribadi. Berbagai macam nilai tersebut saling mempengaruhi pengambil kebijakan dalam mengambil keputusan. Prioritas dari masing-masing nilai ini setiap orang akan berbeda-beda tergantung situasi pada saat pengambil kebijakan mengambil keputusan serta moral yang dimiliki.

Modul 2 Pendidikan Guru Penggerak, pada sub 2.3 CGP diberikan materi tentang coaching. Coaching ini berbeda dengan mentoring dan konsul. Pada coaching memang coachee yang mencari jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi ini. coach hanya sebagai orang yang membimbing coachee untuk mencari jalan keluarnya. Pada kegiatan coaching yang CGP lakukan kepada peserta didik di sekolah, coachee sudah bisa menentukan jalan keluar sendiri terhadap masalah mereka. Kegiatan Coaching juga sudah dilakukan kepada rekan sejawat yang membutuhkan. Kegiatan Coaching ini sangat berhubungan dengan bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil. Dari berbagai masalah yang timbul disekitar pendidikan kita sebagai pemimpin pembelajaran dapat menerapkan praktek coaching untuk selanjutnya menentukan langkah dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Bagaimana pembahasan studi kasus yang focus pada masalah moral atau etika kembali nilai-nilai yang dianut oleh seorang pendidik

Seorang pendidik harus bisa melihat bagaiamana persoalan tersebut apakah merupakan dilemma etika atau merupakan bujukan moral, nilai-nilai yang yang akan diambilpun merupakan nilai yang merupakan proses kegiatan yang merupakan titik temunya adalah sebagai pemimpin pembelajaran tetap dengan berbagai cara akan menuntun siswa tersebut kearah yang lebih baik dalam pengambilan keputusan. Keptusan yang diambil merupakan keputusan yang bertanggung jawab. Sebagai seorang pendidik harus mampu membedakan antara masalah moral dan etika untuk dapat memimpin peserta didiknya pada sebuah keputusan yang bertanggung jawab

Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. harus disesuaikan dengan paradigma pengambilan keputusan yang terdiri dari :

1.      Individu lawan masyarakat (individual vs community)

2.      Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

3.      Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

4.      Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Prinsip pengambilan keputusan dapat dibedakan menjadi tiga bagian yang terdiri dari :

1.      Berpikir berdasarkan hasil Akhir (End-Based Thinking) yaitu proses berpikir dalam pengambilan keputusan yang saya lakukan karena terbaik untuk kebanyakan orang.

2.      Berpikir berbasiskan peraturan (Rule-Based Thinking) yaitu proses berpikir dalam pengambilan keputusan berdasarkan prinsip atau aturan-aturan yang telah ditetapkan.

3.      Berpikir berbasiskan rasa perduli (Care-Based Thinking) Yaitu proses berpikir dalam memutuskan sesuatu dengan pemikiran apa yang anda harapkan orang lakukan terhadap anda.

Proses pengambilan keputusan menggunakan sembilan langkah yaitu :

1.      Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini

2.      Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

3.      Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

4.      Pengujian benar atau salah dengan cara uji legal, uji regulasi/ standar profesional, uji intuisi, uji halaman depan koran, uji panutan/idola.

5.      Pengujian Paradigma Benar lawan Benar yaitu individu lawan masyarakat (individual vs community), rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

6.      Melakukan Prinsip Resolusi yaitu Berpikir berdasarkan hasil Akhir (End-Based Thinking), Berpikir berbasiskan peraturan (Rule-Based Thinking), Berpikir berbasiskan rasa perduli (Care-Based Thinking)

7.      Investigasi Opsi Trilema

8.      Buat Keputusan

9.      Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Diharap kan dengan telah dijalankan langkah-langkah pengambilan keputusan dalam pemimpin pelajaran mampu menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

kesulitan-kesulitan di lingkungan yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini salah satunya adalah kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan. Lingkungan kita selama ini masih merasa nyaman dengan kebudayaan yang berlangsung dari waktu kewaktu. Mereka masih merasa awam dengan perubahan yanag terjadi. Kemunginan terbesar yang akan terjadi adalah lingkungan sekitar merasa terancam terhadap perubahan-perubahan yang kita lakukan, termasuk dalam hal pengambilan keputusan ini. Kasus –kasus dilema etika ini berada banyak disekitar kita, tapi rasa sungkan dan rasa tidak mau tahu membuat keputusan ini hanya mampu dilakukan oleh segelintir orang saja.

Pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita sangat berpengaruh sekali. Segala sesuatu keputusan yang kita ambil sebagai pemimpin pembelajaran muara akhirnya adalah memerdekan murid-murid kita. Sebagai agen pembaruan dalam dunia pendidikan dengan mempelajari membuat keputusan sebagai pemimpin pembelajaran kita mampu menciptkan iklim pembelajaran yang berpihak kepada siswa. Sebagai pemimpin pembelajaran kita mampu mewujudkan keinginan yakni menciptaan pembelajaran yang merdeka.

Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Semua keputusan yang diambil hendaknya selalu berpihak pada siswa, kita siap untuk menghamba kepada siswa. Betul atau salahnya keputusan yang kita ambil sudah pasti akan berdampak pada kehidupan atau masa depan siswa kita kelak. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran yang baik sudah semestinya kita mempertimbangkan setiap keputusan yang kita ambil.

Kesimpulan akhir terkait modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya merupakan suatu tidak terpisahkan untuk mencapai kemerdekaan dalam belajar pada murid, Ki Hajar Dewantara dalam menuntut segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan belajar, baik untuk dirinya  sendiri, sekolah maupun masyarakat. Selain itu juga dimana proses pembelajaran di seorang pendidik harus bisa melihat kebutuhan belajar pada anak serta mengelolah kompertensi social emosional dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Pendekatan Coaching juga merupakan salah satu pendekatan yang  membantu siswa dalam mencari solusi atas masalahnya sendiri dan hal inilah yang merupakan salah satu trik sebagai seorang pendidik bisa mengetahui permasalahan yang dialami oleh siswa lewat pertanyaan-pemantik saat coaching. Sebagai seorang guru penggerak juga harus mengetahui permasalahan yang dialami oleh rekan sejawat dalam proses pembelajaran dan coahing dapat menemukan jawaban atas setiap pertanyaan untuk menemukan solusi maka terciptalah budaya postif pada lingkungan belajar di sekolah dan komunitas praktisi. Para pendidik yang mampu membuat keputusan sebagai pemimpin pembelajaran merupakan cita-cita guru masa depan, dan proses pengambilan keptusan berdasrakan dilema etika.

 

Diseminasi Peningkatan Keterampilan Numerasi Guru Dikdas Melalui Math City Map

  Kegiatan penguatan keterampilan numerasi melalui Math City Map (MCM) didapat penulis dari pelatihan Bimtek yang diadakan oleh gtk Dikdas d...